π¦ππππ£ π‘ππ₯-ππ π£ππ§π
Sebelumnya Civitas Hospitalia RSUD dr. Ernaldi Bahar Provinsi mengucapkan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Yurizal Tri Chaerawan, Semoga amal ibadah almarhum/almarhumah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.


Dibalik cerita duka atas wafatnya almarhum, ada pemberitaan luas di berbagai media yang menyoroti sikap nir-empati hingga komentar negatif dari sebagian tenaga kesehatan (nakes) di media sosial.
Ketua Konsil Kesehatan Indonesia KKI dr. Mohammad Syahril menyebutkan, KKI menyampaikan keprihatinan atas dugaan komentar nirempati oleh nakes dan tenaga medis, yang berisiko merendahkan martabat pasien. “Sikap empati merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme tenaga medis dan tenaga kesehatan,” ucapnya. “Oleh karena itu penghormatan terhadap martabat manusia termasuk pasien dan keluarganya harus senantiasa dijaga dalam setiap bentuk komunikasi, baik di lingkungan pelayanan maupun di ruang digital,”
Hasil rangkuman dari berbagai sumber, sikap nirempati pada para nakes bisa dipicu oleh kombinasi kelelahan psikologis kronis (burnout), berkurangnya kepekaan emosional (depersonalization), dan hilangnya batasan ruang digital.
Meskipun perilaku merendahkan pasien tidak dapat dibenarkan secara etika maupun profesi, studi psikologi dan kedokteran mengidentifikasi beberapa faktor utama mengapa fenomena ini bisa terjadi :
1. Sindrom Burnout dan Kelelahan Emosional
Nakes bekerja di bawah tekanan tinggi yang konstan, mulai dari jam kerja yang panjang, beban administratif, hingga jumlah pasien yang tidak sebanding dengan staf. Tekanan kronis ini memicu burnout syndrome. Saat seseorang mengalami kelelahan emosional yang ekstrem, kapasitas otak mereka untuk memproses rasa peduli dan berempati terhadap penderitaan orang lain akan menurun drastis demi melindungi kesehatan mental mereka sendiri (coping mechanism).
2. Efek Depersonalisasi (Depersonalization)
Dalam teori psikologi burnout oleh Maslach, salah satu dimensi utamanya adalah depersonalisasi. Ini adalah kondisi di mana nakes mulai menjaga jarak secara emosional dan melihat pasien bukan sebagai manusia yang utuh, melainkan sebagai “objek”, “nomor antrean”, atau “beban kerja”. Akibatnya, respons yang keluar cenderung sinis, dingin, atau judes.
3. Kelelahan Merawat (Compassion Fatigue)
Berbeda dengan stres kerja biasa, compassion fatigue muncul karena nakes terus-menerus menyerap trauma, kesedihan, dan penderitaan pasien setiap hari. Jika tidak ditangani, “tangki empati” mereka kosong, sehingga mereka tidak lagi memiliki energi afektif untuk menunjukkan rasa simpati saat melihat keluhan pasien.
4. Ilusi Jarak di Media Sosial
Berdasarkan analisis psikologi siber, berkomentar di media sosial menghilangkan umpan balik emosional langsung (disinhibition effect). Saat nakes membaca keluhan pasien di Threads, X, atau Instagram, mereka tidak melihat wajah lelah atau penderitaan pasien secara fisik. Ketiadaan kontak mata ini membuat orang jauh lebih mudah mengetik komentar impulsif, sinis, dan kejam tanpa memikirkan dampaknya.
5. Reaksi Defensif Terhadap Kritik Sistemik
Ketika pasien mengeluhkan sistem (seperti antrean BPJS atau ketiadaan kamar), sebagian nakes merasa keluhan tersebut menyerang integritas atau kerja keras mereka secara pribadi. Hal ini memicu reaksi defensif yang agresif di ruang publik digital, di mana mereka merasa perlu “menyerang balik” untuk membela institusi atau profesi mereka.
(humiw)
Leave a Reply