๐ฃ๐๐ฅ๐๐๐๐๐จ ๐๐จ๐ก๐จ๐ ๐๐๐ฅ๐
———————————————————————————————————–
Oleh : Iwan Andhyantoro, SKM, M.Kes โ Promotor kesehatan dan Ilmu Perilaku, Pembimbing Klinik Pendidikan Kesehatan RS Ernaldi Bahar, Dosen, dan Pemerhati Perilaku Kesehatan Masyarakat.
———————————————————————————————————–
Di bulan ini, tepatnya tanggal 10 September adalah Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, peringatan ini harus semakin sering digaungkan, karena akhir-akhir ini marak pemberitaan terkait tindakan bunuh diri, yang dilakukan oleh berbagai kalangan, dan beragam latar belakang mulai dari anak SD, celebritis, mahasiswa, aparat, bahkan juga oleh nakes.
Berdasarkan data Kepolisian RI (Polri) dan Kementerian Kesehatan RI, angka kasus bunuh diri di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2023, tercatat lebih dari 1.200 hingga 1.350 kasus kematian akibat bunuh diri, dengan rata-rata terjadi sekitar 3 kasus per hari. Sebagian besar pengamat dan peneliti memperkirakan angka riil di lapangan bisa lebih tinggi dari data resmi yang dilaporkan.

๐ ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ฆ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ ๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐น๐ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ฎ๐ป ๐๐ต๐๐๐๐
Bunuh diri adalah masalah serius yang harus dipahami oleh masyarakat, dan menjadi tanggung jawab bersama dalam upaya pencegahan. Paparan informasi dan edukasi yang konstruktif harus semakin gencar dan intens dilakukan sehingga semua pihak ( individu, orang tua, lembaga pendidikan, pemangku kebijakan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dll ) terpapar informasi dan memahami seluk beluk perilaku bunuh diri sebagai upaya pemberdayaan semua lapisan masyarakat agar mampu bertindak dan bersikap cepat dan tepat jika menemukan seseorang atau mungkin dirinya sendiri merasakan beberapa hal yang mengarah pada perilaku bunuh diri. Karena masalah mental bisa disembuhkan, dan tindakan bunuh diri bisa dicegah.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐ถ๐ ๐ ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐น & ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐น๐ฎ๐ธ๐ ๐๐๐ป๐๐ต ๐๐ถ๐ฟ๐ถ
Penelitian telah menunjukkan bahwa banyak orang yang melakukan bunuh diri mempunyai beberapa faktor risiko. Hampir 90% pelaku bunuh diri di latar belakangi penyakit mental.
Depresi adalah penyakit mental paling umum yang sering berkontribusi terhadap perilaku bunuh diri .
Lebih dari 50% percobaan bunuh diri terkait dengan depresi. Depresi pada beberapa kasus terjadi karena alasan yang tak teridentifikasi, ada juga karena masalah pernikahan atau percintaan, masalah hukum, perselisihan dengan orang dekat, kehilangan orang yang dicintai, trauma psikologis, atau kombinasi berbagai faktor. Risiko bunuh diri lebih tinggi jika orang-orang yang menderita depresi juga mengalami kecemasan yang signifikan, perilaku impulsif, gangguan akibat penggunaan narkoba, dan gangguan lainnya.
Hampir semua masalah kesehatan mental juga membuat orang berisiko lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri.
Orang dengan skizofrenia atau gangguan psikotik lainnya bisa memiliki delusi (keyakinan salah yang tdak realistis), atau halusinasi pendengaran berupa suara-suara yang memerintahkan bunuh diri. Penderita skizofrenia juga rentan mengalami depresi. Risiko bunuh diri pada mereka lebih tinggi daripada orang lain.
Orang dengan gangguan kepribadian ambang atau gangguan kepribadian antisosial, terutama mereka yang memiliki riwayat impulsif, agresi, atau perilaku kekerasan, juga berisiko lebih tinggi untuk bunuh diri. Mereka cenderung memiliki toleransi frustrasi yang rendah dan cenderung lebih mudah bereaksi terhadap stres, yang seringkali mengarah pada tindakan melukai diri sendiri atau perilaku agresif.
๐ง๐ฟ๐ฎ๐๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ & ๐ง๐ฒ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ผ๐๐ถ๐ฎ๐น
Faktor lain yang meningkatkan risiko percobaan bunuh diri adalah traumatis masa kecil, misalnya pelecehan seksual dan fisik, bullying, kegagalan, tekanan sosial atau lingkungan, terlilit hutang, pinjol, dll.
๐ก๐ฎ๐ฟ๐ธ๐ผ๐ฏ๐ฎ & ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐น๐ฎ๐ธ๐ ๐๐๐ป๐๐ต ๐๐ถ๐ฟ๐ถ
Zat kimia dalam narkoba merusak fungsi otak, mengubah suasana hati secara drastis, dan memperparah masalah mental, memicu depresi, yang bisa meningkatkan dorongan untuk bunuh diri. Alkohol juga mengurangi pengendalian diri dan meningkatkan impulsivitas. Ada penelitian menyatakan bahwa 30 hingga 40% pelaku bunuh diri meminum alkohol sebelum melakukannya, dan sekitar 50% darinya berada dalam keadaan mabuk. Pengguna alkohol lebih berisiko untuk bunuh diri walau tidak mabuk.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐ถ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ & ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐น๐ฎ๐ธ๐ ๐๐๐ป๐๐ต ๐๐ถ๐ฟ๐ถ
Orang-orang dengan penyakit serius dapat meningkatkan risiko bunuh diri, akibat efek psikologis dari disabilitas, ketidakberdayaan, nyeri yang tak tertahankan, ketidak nyamanan, atau depresi terkait derita penyakitnya.
๐๐๐ป๐๐ต ๐๐ถ๐ฟ๐ถ ๐ฃ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ฅ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ท๐ฎ
– Riset oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia pada periode 2012โ2023, sekitar 46,63% (985 kasus) terjadi pada usia remaja.
– Masalah Mental Remaja : Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (I-NAMHS) menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja (34,9%) atau sekitar 2,45 juta remaja usia 10โ17 tahun di Indonesia pernah memiliki masalah kesehatan mental dalam kurun waktu 12 bulan.
– Fenomena Gunung Es : Angka resmi yang tercatat diperkirakan jauh lebih rendah dari kenyataan di lapangan (underreported) karena stigma sosial yang kuat membuat keluarga atau lingkungan cenderung menutupi kasus bunuh diri.
๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ ๐ณ๐ฎ๐ธ๐๐ผ๐ฟ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ผ๐ป๐๐ฟ๐ถ๐ฏ๐๐๐ถ ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฝ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ถ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฎ๐๐๐ ๐ฏ๐๐ป๐๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ, ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ธ๐๐ :
1. Penyakit mental yang tidak diatasi (termasuk gangguan depresi berat, gangguan bipolar, gangguan penggunaan zat, psikosis, gangguan makan, gangguan hiperaktivitas defisit perhatian [attention-deficit hyperactivity disorder, ADHD], gangguan kecemasan, dan/atau trauma)
2. Kondisi medis umum seperti cedera otak atau gangguan spektrum autisme
3. Peristiwa yang merugikan pada masa kanak-kanak (termasuk penganiayaan, pengabaian)
4. Pengalaman trauma atau kehilangan (termasuk lingkungan rumah yang tidak stabil; tumbuh dengan orang tua yang memiliki penyakit mental; terpapar bunuh diri teman sebaya dan/atau kerabat yang meninggal karena bunuh diri; atau pengalaman intimidasi atau diskriminasi berdasarkan ras, jenis kelamin, atau orientasi seksual)
5. Peran media sosial yang kompleks dalam risiko bunuh diri tidak sepenuhnya dipahami, mulai dari potensi efek negatif pada suasana hati, tidur, dan pikiran ingin bunuh diri hingga ikatan hubungan antar pribadi yang positif bagi sebagian orang, yang mungkin memainkan peran pelindung terhadap upaya bunuh diri.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐น๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐๐ป๐๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ฎ๐ป
Perilaku bunuh diri juga bisa ditularkan , misalnya dalam komunitas, sekolah, atau tempat kerja, media sosial atau pemberitaan. Bunuh diri yang dipublikasikan secara luas dapat memiliki efek yang sangat luas. Anak-anak, remaja, dan dewasa muda sangat rentan tertular untuk bunuh diri. Mereka dapat terpapar secara langsung karena mereka mengenal seseorang yang mencoba atau meninggal karena bunuh diri. Mereka juga dapat terpapar secara tidak langsung oleh liputan media yang sensasional dan penuh sensasi tentang kematian seorang selebriti karena bunuh diri. Sebaliknya, liputan media dengan pesan positif yang lebih bersifat edukatif yang membahas secara bijak perihal kematian karena bunuh diri dapat mengurangi risiko penularan bunuh diri. Pesan yang disampaikan harus menggambarkan perjuangan kesehatan mental sebagai bagian dari kehidupan, dan memahamkan bahwa tindakan mencari bantuan dan pengobatan terkait dorongan untuk melakukan bunuh diri bukanlah sebuah aib atau memalukan. Penggambaran masalah kesehatan mental dan bunuh diri secara proporsional dan komprehensif dapat memberikan dampak positif dan menjadi counter yang lebih produktif bagi pemberitaan-pemberitaan yang secara gegabah mungkin justru memicu dan mendorong perilaku bunuh diri pada masyarakat.
Penularan bunuh diri menjadi penyumbang faktor dalam sekitar 1 hingga 5% dari semua kasus bunuh diri remaja. Pengelola sekolah, profesional kesehatan mental, dan tokoh masyarakat lainnya dapat belajar untuk menggunakan media dan platform sosial untuk menghentikan penyebaran penularan bunuh diri. Pelaporan yang sensitif dan penegakan pedoman postvensi (intervensi yang dilakukan setelah kejadian bunuh diri) di sekolah dan tempat kerja adalah 2 strategi untuk mencegah terjadinya bunuh diri tambahan.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐น๐ฎ๐ธ๐ ๐๐๐ป๐๐ต ๐๐ถ๐ฟ๐ถ
– Penilaian risiko bunuh diri
– Perencanaan keselamatan
– Psikoterapi
– Obat-obatan
– Tindak lanjut dan pemantauan yang ketat
๐๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ฑ๐๐น๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ง๐ถ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ง๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ :
Jika anda, atau orang di sekitar anda memiliki gejala atau mengarah pada perilaku bunuh diri diharap segera menghubungi fasilitas kesehatan mental terdekat ; dokter keluarga, klinik kesehatan, puskesmas, atau rumah sakit. Perilaku bunuh diri termasuk dalam kriteria โkegawat daruratan psikiatriโ, sehingga bisa diterima di IGD rumah sakit yang khusus melayani masalah kesehatan jiwa. Bahkan sudah banyak layanan kesehatan mental secara profesioanal untuk berkonsultasi kepada psikiater atau psikolog klinis berupa layanan online. Anda juga bisa menemukan beberapa komunitas yang berhubungan dengan pencegahan bunuh diri, misalnya Into The Light dengan link :๐ต๐๐๐ฝ๐://๐๐๐.๐ถ๐ป๐๐ผ๐๐ต๐ฒ๐น๐ถ๐ด๐ต๐๐ถ๐ฑ.๐ผ๐ฟ๐ด/ untuk mendapatkan wawasan, pencerahan dan penguatan dalam upaya mencegah perilaku bunuh diri.
๐๐ผ๐บ๐๐ป๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ฒ๐ด๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป ๐๐๐ป๐๐ต ๐๐ถ๐ฟ๐ถ
Ada beberapa komunitas yang konsen pada edukasi dan upaya pencegahan bunuh diri, salah satunya adalah โ๐๐ฃ๐ฉ๐ค ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ฉ ๐๐ฃ๐๐ค๐ฃ๐๐จ๐๐โ, adalah sebuah komunitas untuk advokasi, kajian, dan edukasi pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa terutama para kawula muda.
๐ง๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ-๐๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ ๐๐ฒ๐๐ฒ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ถ๐ป๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ถ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐ธ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐๐ป๐๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ถ :
โข Mengungkapkan ide atau kata-kata yang mengindikasikan niat bunuh diri, seperti โsaya ingin matiโ atau โlebih baik saya tidak pernah lahirโ
โข Membuat surat wasiat
โข Memberikan benda-benda berharganya
โข Berpamitan kepada kerabat dan keluarga
โข Menyimpan pil-pil berbahaya atau senjata tajam
โข Lebih sering mengonsumsi minuman beralkohol atau menyalahgunakan NAPZA
โข Menjauhkan diri dari kerabat atau keluarga
โข Terlihat cemas atau gelisah
โข Mengalami penurunan performa yang drastis di sekolah atau pekerjaan
โข Mengalami perubahan pada kebiasaan makan atau tidur
โข Menunjukkan perubahan suasana hati yang drastis, misalnya merasa senang atau sangat tenang, sesaat setelah merasa sangat sedih
โข Melakukan sesuatu yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian, seperti berkendara dengan sangat cepat
Tulisan ini dibuat untuk menggugah kita semua untuk memahami seluk beluk dan latar belakang terjadi perilaku bunuh diri, sehingga bisa mengambil langkah cepat dan tepat bila di sekitar kita menemukan tanda-tanda seseorang akan melakukan tindakan bunuh diri.
(humiw)
Leave a Reply